Tahun 2018 menjadi tahun yang paling mengubah hidupku. Di tahun itulah, sosok yang paling aku cintai di dunia ini—Mamah—dipanggil kembali oleh Yang Mahakuasa.
Hari itu, suasana rumah terasa sangat sunyi. Tidak ada lagi tegur sapa hangat dari Mamah. Yang ada hanya suara tangisan pelan dari kerabat dan tetangga yang melayat. Aku sendiri berdiri membisu di sudut ruangan. Dadaku sesak, rasanya sulit sekali hanya untuk sekadar menarik napas. Hatiku menolak percaya bahwa Mamah sudah tidak ada.
Momen yang Menghancurkan Duniaku
Saat jasad Mamah hendak dikafani, seorang ibu-ibu di dekat ruangan itu berbisik pelan kepadaku,
“Ibunya dicium dulu, Nak…”
Sambil menangis sesenggukan dan air mata yang terus mengalir deras, aku mendekat dan membungkuk untuk mencium kening Mamah untuk terakhir kalinya. Namun, tepat ketika bibirku hampir menyentuh keningnya, seseorang tiba-tiba berteriak agak keras,
“Air matanya jangan sampai kena ke wajah ibu!”
Kalimat itu langsung menghentikan langkahku. Rasanya begitu menyengat dan membekas di dalam dada. Di momen itulah duniaku benar-benar runtuh tanpa suara. Aku sadar, dinginnya wajah Mamah hari itu menandakan bahwa tidak akan ada lagi pelukan hangat darinya. Janji-janji untuk membahagiakan Mamah yang dulu sering aku ucapkan harus terhenti sampai di situ.
Merekam Luka Lewat Lagu
Kenangan pahit dan rindu yang tidak pernah selesai itu akhirnya aku tuangkan ke dalam sebuah lagu berjudul “Bisikan Paling Kejam”. Lagu ini adalah rekaman emosi dan luapan perasaan yang belum sempat aku sampaikan langsung kepada Mamah.
Lirik Lagu: Bisikan Paling Kejam
Verse 1
Tak ada yang lebih sunyi
Dari rumah yang mendadak kehilangan suara
Orang-orang menangis pelan
Seolah takut membuat luka makin terbuka
Aku berdiri di sudut ruang
Dengan dada yang tak tahu cara bernapas
Sampai seseorang berbisik pelan…
Kalimat yang menghancurkan segalanya
Pre-Chorus
“Ibunya dicium dulu…”
“Air matanya jangan sampai kena…”
Saat itu duniaku runtuh
Tanpa suara
Chorus
Ibu… jangan tidur terlalu lama
Aku belum sempat bilang terima kasih semuanya
Belum sempat bahagiain ibu seperti janjiku dulu
Kenapa perpisahan datang secepat itu?
Ibu… ini cium terakhirku
Dengan tangan yang gemetar menyentuh wajahmu
Kalau memang ini akhir…
Boleh aku jadi anak kecilmu sekali lagi?
Verse 2
Aku ingat tangan itu
Yang dulu mengusap demamku sepanjang malam
Kini dinginnya membuatku sadar
Tak semua pelukan bisa kembali pulang
Aku mau bilang jangan pergi
Tapi doa terasa patah di tenggorokan
Semua orang bilang harus ikhlas
Tapi hatiku belum diajari kehilangan
Pre-Chorus
“Ibunya dicium dulu…”
“Air matanya jangan sampai kena…”
Saat itu duniaku runtuh
Tanpa suara
Chorus
Ibu… jangan tidur terlalu lama
Aku belum sempat bilang terima kasih semuanya
Belum sempat bahagiain ibu seperti janjiku dulu
Kenapa perpisahan datang secepat itu?
Ibu… ini cium terakhirku
Dengan tangan yang gemetar menyentuh wajahmu
Kalau memang ini akhir…
Boleh aku jadi anak kecilmu sekali lagi?
Pelajaran untuk Kita yang Masih Memiliki Waktu
Kehilangan orang tua meninggalkan lubang rindu yang tak akan pernah benar-benar pulih. Lewat cerita dan lagu ini, aku hanya ingin mengingatkan kita semua: jika saat ini kamu masih memiliki ibu atau orang tua, peluklah mereka, ajaklah mereka mengobrol, dan luapkan rasa sayangmu selagi kesempatan itu masih ada.
Karena ketika perpisahan itu datang, hal yang paling berat bukanlah melepaskan, melainkan menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk kita kembali pulang.