Namaku Andrean Aditya. Aku lahir di Jakarta tahun 1989 dan tumbuh dalam keluarga yang sangat sederhana.
Sejak kecil, aku dididik lumayan keras oleh Mamah. Karena Ayah adalah seorang pelaut kapal penumpang yang sering berlayar sebulan penuh dan hanya bisa pulang ke rumah sekitar 5–10 jam sebelum berangkat lagi, Mamah harus berperan ganda: menjadi ibu sekaligus ayah untuk kami.
Sejak usia 2 tahun, hidup kami selalu berpindah-pindah mengikuti pelabuhan tempat kapal Ayah singgah. Kami pernah tinggal di Semarang hingga Belawan, Medan.
Aku ingat betul satu momen di rumah kontrakan kami di Semarang. Musim hujan datang, kontrakan bocor dan banjir sampai setinggi dengkul. Saat itu Ayah sedang berlayar di tengah lautan. Tanpa mengeluh, Mamah menyuruh aku dan kakakku (Meliza Arnelia) naik ke atas kasur, sementara beliau sibuk membersihkan air dan lumpur sendirian. Capek? Pasti. Tapi Mamah tidak pernah memperlihatkan kelelahannya di depan kami.
Kebohongan-Kebohongan Kecil yang Penuh Cinta
Waktu kami kecil, penghasilan Ayah masih sangat terbatas. Tapi Mamah selalu punya cara agar kami tidak merasa kekurangan.
Dulu, aku sering melihat Mamah bilang kalau beliau sudah makan. Padahal nasi yang tersisa di piring tinggal sedikit, dan itu disisakan agar aku dan kakakku bisa makan kenyang. Mamah memilih menahan lapar asal perut anak-anaknya terisi.
Pernah juga Mamah bilang kalau uang belanja masih cukup untuk besok. Padahal di belakang kami, Mamah diam-diam mengumpulkan dan menghitung uang receh koin yang terselip di balik lemari, kolong meja, atau sudut-sudut rumah agar jumlahnya pas untuk membeli kebutuhan harian.
Kebohongan lain yang baru aku ketahui saat SMA adalah cerita masa SD-ku di SDN Rorotan Bekasi. Waktu itu, jarak rumah ke sekolah harus ditempuh naik angkutan umum. Suatu hari saat pulang sekolah, Mamah mengajak aku jalan kaki melewati jalan kampung dan pematang sawah. Waktu itu aku tidak tahu alasannya. Baru bertahun-tahun kemudian Mamah cerita bahwa hari itu uangnya tidak cukup untuk bayar ongkos angkot.
Hebatnya lagi, Mamah tidak pernah menceritakan kesulitan itu kepada Ayah. Ketika Ayah menelepon dan bertanya, “Masih pegang uang ga, Mah?”, Mamah selalu menjawab, “Ada.” Mamah tahu Ayah juga sedang berjuang keras dan belum tentu pegang uang di tengah laut. Mamah menyimpan semua beban dan air matanya sendirian di malam hari, lalu menyambut kami dengan senyuman hangat di pagi hari.
Merekam Kebohongan Tulus Lewat Lagu
Semua kebohongan kecil itu adalah bentuk cinta paling tulus yang pernah aku terima dalam hidup. Sebuah kebohongan yang dilakukan bukan untuk menipu, melainkan untuk melindungi dan membahagiakan kami.
Rasa terima kasih, haru, sekaligus penyesalan karena dulu aku kurang peka, akhirnya aku tuangkan ke dalam lagu “Bohong Paling Tulus di Dunia”.
Dengarkan lagu selengkapnya di Spotify.
Lirik Lagu: Bohong Paling Tulus di Dunia
Katamu kau sudah makan tadi
Padahal nasi tinggal setengah lagi
Kau tersenyum, bilang semua cukup
Walau lapar diam-diam kau peluk
Katamu uang masih tersisa
Untuk esok dan juga kebutuhan kita
Tapi diam-diam kau hitung receh
Agar kami tetap bisa tersenyum lepas
Kau simpan lelahmu sendiri
Tak pernah ingin kami mengerti
Chorus
Itu bohong paling tulus di dunia
Yang tak pernah kami sadari maknanya
Kau relakan semua yang kau punya
Demi kami bisa tertawa bahagia
Kau bilang semuanya baik-baik saja
Walau hatimu penuh luka Jika itu namanya cinta…
Biarlah aku belajar darinya
Katamu kau tak pernah menangis
Padahal malam jadi saksi tangis
Kau kuatkan diri di depan kami
Seolah hidup tak pernah menyakiti
Kini aku mulai mengerti
Semua yang dulu tak kupahami
Chorus
Itu bohong paling tulus di dunia
Yang kini terasa begitu nyata
Kau relakan semua yang kau punya
Demi kami bisa hidup lebih lama
Kau bilang semuanya baik-baik saja
Walau dunia tak berpihak padanya
Jika itu namanya cinta…
Takkan mampu ku membalasnya
Maafkan aku yang dulu tak peka
Mengira semua memang baik saja
Kini ku tahu arti air mata
Yang kau sembunyikan di balik tawa
Jika waktu bisa ku putar kembali
Akan kupeluk kau lebih lama lagi
Takkan kubiarkan kau sendiri
Dalam bohong yang kau simpan rapi…
Maaf dan Terima Kasih untuk Mamah
Maafin Andre ya, Mah… yang dulu tidak pernah peka dengan semua perjuangan Mamah.
Untuk teman-teman yang membaca artikel ini, kalau orang tua kalian masih ada, cobalah untuk lebih peka. Kadang di balik kata “nggak apa-apa” atau “masih ada uang”, ada perjuangan berat yang sengaja mereka sembunyikan agar kita tetap bisa tersenyum tenang.