Kalau kamu sempat melintasi rumah masa kecilmu hari ini, coba berhenti sejenak dan perhatikan.
Dinding catnya mungkin sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Pagar besi yang dulu sering kita panjat sudah berkarat. Rumput liar tumbuh agak tinggi di halaman depan tempat kita biasa main bola plastik atau lompat tali setiap sore.
Suasananya mendadak terasa begitu sepi.
Padahal kalau diputar kembali belasan atau puluhan tahun lalu, rumah itu adalah tempat paling berisik yang pernah ada. Ada suara anak-anak berteriak berlarian, suara TV yang menyala dari pagi sampai malam, ketukan sendok di piring makan, sampai suara omelan orang tua yang menyuruh kita segera mandi.
Dulu rumah itu penuh dengan kehidupan. Sekarang, rumah itu cuma menyimpan bisikan kenangan.
Anak-Anak yang Tumbuh dan Pergi
Penyebab utama kenapa rumah tua perlahan jadi sunyi sebenarnya sangat alami: anak-anak yang ada di dalamnya tumbuh dewasa dan mulai mengejar dunianya sendiri.
Satu per satu dari kita mulai merantau, bekerja di kota lain, menikah, dan akhirnya membangun rumah tangganya masing-masing.
Proses kepindahan itu jarang terjadi sekaligus. Biasanya bertahap:
- Diawali dengan kamar tidur yang mulai kosong karena dipakai kuliah di luar kota.
- Lalu barang-barang di lemari yang makin sedikit dipindahkan.
- Sampai akhirnya, rumah yang dulunya dihuni lima atau enam orang, kini cuma diisi oleh dua orang tua yang rambutnya makin memutih.
Setiap kali kita datang berkunjung di hari libur, kita bisa melihat betapa gembiranya orang tua kita. Namun begitu liburan usai dan kita pamit pulang ke kota tempat kita bekerja, rumah itu akan kembali melipat dirinya dalam kesunyian.
Jejak Kecil yang Tertinggal di Sudut Ruangan
Bagi orang-orang yang tumbuh di dalamnya, sebuah rumah tua bukan cuma tumpukan bata dan semen. Setiap incinya punya cerita yang tak pernah benar-benar hilang.
- Bekas coretan di dinding dekat meja belajar: Jejak tinggi badan kita saat SD yang sengaja diukur pakai penggaris dan pensil.
- Meja makan kayu di dapur: Tempat seluruh keluarga duduk bersama, mendengarkan cerita bapak setelah pulang kerja, atau sekadar memperebutkan lauk favorit.
- Sofa tua di ruang tamu: Tempat kita tertidur pulas sewaktu kecil setelah capek bermain, lalu tiba-tiba terbangun sudah di atas kasur karena digendong.
Barang-barangnya mungkin sudah banyak yang lapuk atau diganti, tapi ingatan tentang kejadian di tempat itu akan tetap menempel dengan sangat jelas di kepala kita.
Rumah Adalah Manusia di Dalamnya
Saat kita makin dewasa, kita mulai menyadari satu hal penting: yang bikin kita rindu pada sebuah rumah sebenarnya bukanlah bangunannya, melainkan orang-orang yang mengisi rumah tersebut.
Begitu orang tua kita sudah tidak ada atau tidak lagi tinggal di sana, bangunan rumah itu mendadak terasa amat berbeda. Ia terasa seperti ruangan kosong biasa yang dingin, meski bentuk pintunya masih sama dan warna catnya belum berubah.
Sebab tempat berlindung yang paling hangat pada dasarnya adalah rasa aman dari kehadiran orang-orang yang mencintai kita.
Sebelum Rumah Itu Benar-Benar Sepi
Jika hari ini orang tuamu masih mendiami rumah masa kecilmu, luangkanlah waktu untuk sesekali mengetuk pintunya.
Jangan tunggu ada acara keluarga besar atau momen lebaran saja untuk pulang. Mampirlah meski cuma sebentar, bawakan makanan kesukaan mereka, atau sekadar duduk bersama di teras sambil mendengarkan cerita-cerita lama yang sebenarnya sudah puluhan kali kamu dengar.
Bawa kembali sedikit keriuhan ke dalam rumah itu. Sebab untuk orang tua kita, tidak ada suara yang paling menenangkan selain langkah kaki anak-anaknya yang kembali pulang ke rumah.
Ruang Cerita
Sudut atau barang apa di rumah masa kecilmu yang paling sering bikin kamu nostalgia kalau mengingatnya? Kalau berkenan, bagikan ceritamu di kolom komentar di bawah ya. Mari kita saling mendengarkan.